Benteng sepanjang dua ribu tujuh ratus empat puluh meter ini. Benteng ini dibangun dalam kurun waktu lima puluh tahun, melampaui tiga masa sultan yang berbeda.Benteng yang berbentuk huruf 'dal' dalam aksara Arab ini, disusun dari batu kapur dan pasir. Benteng ini dilengkapi dua belas pintu masuk dan enam belas kubu pertahanan. Banyaknya meriam yang ditempatkan di tiap sisi benteng, menunjukkan masa Kesultanan Buton tidaklah mudah. Ada musuh, ada tamu asing, dan juga ada kerajaan tetangga, yang setiap saat datang sebagai lawan.
Disisi tebing yang merupakan pembatas benteng bagian belakang, terdapat sebuah ceruk. Letaknya tepat di bawah tanah keraton. Gua ini yang perna ditempati persembunyian Arupalaka, Raja Bone, saat melarikan diri dari kejaran tentara Sultan Hasanudin dari Kerajaan Gowa. Berkat sumpah Sultan Buton yang menyatakan Arupalaka tidak berada di atas tanah Buton, maka selamatlah Raja Bone itu.
Di kota kecil komplek Kesultanan Buton berada. Terletak di puncak bukit dan menghadap ke Selat Buton. Wajah kemegahannya masih terasa nyata dan indah sampai sekarang.
Dari arah laut, tiang bendera setinggi dua puluh satu meter tanda pertama yang akan terlihat dari kapal-kapal transit yang datang. Tiang megah ini terbuat dari kayu jati, ini didirikan tahun 1712 tepat dihalaman depan benteng samping mesjid agung kraton. ini merupakan isyarat, anda sedang memasuki wilayah kota raja. Di tiang ini juga pernah dikibarkan bendera kerajaan Belanda, Jepang sebelum akhirnya dikibarkan sang merah putih.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar